Di seluruh wilayah Indonesia cara membangunkan orang sahur sangatlah beragam. Mulai dari membunyikan speaker dengan keras di masjid. Kemudian ada juga yang keliling kampung dengan menabuh alat musik. Tradisi membangunkan orang sahur keliling kampung dengan menabuh alat musik dinamakan sebagai klotekan.

Alat yang musik yang digunakan sangat beraneka ragam, mulai dari gong, angklung, kulintang, kenong, bahkan ada yang menggunakan peralatan dapur. Mereka berbondong-bondong mengelilingi kampung dengan tujuan agar warga yang menunaikan puasa terbangun dan melakukan ibadah sahur.

Tradisi klotekan ini telah berkembang sejak awal abad ke 11 M. Ketika itu masyarakat Jawa melakukannya ketika terjadi gerhana bulan. Para warga keluar dari rumah saat terjadi gerhana bulan, lalu membunyikan alat-alat seadanya. Rakyat Jawa meyakini bahwa fenomena gerhana bulan memunculkan raksasa yang bernama Betara Kala. Bahkan sebagian mitologi ini masih terdengar di masyarakat hingga saat ini.

Hilangnya bulan kala itu dianggap telah ditelan oleh raksasa yang bernama Betara Kala. Dengan menabu alat keliling kampung bertujuan untuk mengusir raksasa agar memuntahkan bulan kembali. Mengenal Klotekan, Tradisi Selamatkan Bulan saat terjadi Gerhana Bulan (Andi Hartik, Regional Kompas.com, akses 12 Mei 2019).

Tradisi ini kemudian dikembangkan menjadi tradisi membangunkan orang sahur pada saat bulan ramadhan. Dari segi nilai, tradisi ini menghasilkan nilai gotong royong dalam masyarakat kita.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia gotong royong secara istilah yaitu bekerja bersama-sama atau tolong menolong. Adanya tindakan membangunkan orang sahur dengan berbondong-bondong keliling kampung telah menunjukkan sendi-sendi gotong royong. Hal tersebut terkadang tanpa kita sadar dan telah dilakukan.

Disamping itu Tradisi klotekan perlu dilestarikan dan dikembangkan. Terdapat nilai-nilai positif yang dapat diambil dari tradisi ini. Tentunya dalam masyarakat kita akan tercipta kehidupan yang rukun dan damai. Bila tercipta demikian, maka apabila terjadi konflik dalam masyarakat, dapat disikapi dengan bijak. Serta dapat diatasi dengan mudah dan tidak berkepajangan.

Klotekan teah mengajarkan kepada kita agar hidup selalu menanamkan nilai gotong royong. Aristoteles mengatakan bahwa manusia merupakan makhluk sosial yaitu makhluk yang tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain.

Oleh karenanya sebagai makhluk sosial kita perlu berprilaku memanusiakan manusia. Dan klotekan telah mengajarkan rasa humanisme terhadap sesama dengan cara membangunkan orang untuk mengajak ibadah sahur.

M. Sukron Aris S. (Anggota Lembaga Pers PC IPNU Sidoarjo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here