NU’S Media Sidoarjo – Beberapa pekan lalu kita diramaikan dengan peryataan simbol illuminati atas Masjid Al Safar yang terletak di Bandung. Masjid yang di arsitekturi langsung oleh Ridwan Kamil santer diisukan sebagai simbol dari Illuminati.

Simbol illuminati sendiri didirikan pada tahun 1776. Perkumpulan rahasia ini diinisiasi oleh filsuf Jerman Adam Weishapt yang amat mempercayai nilai-nilai pencerahan. Para pendiri hanya berjumlah enam hingga sembilan orang, tapi anggota berkembang hingga kisaran seribu. Cara meluaskan organisasi tergolong cerdik, yakni menjadi sel tidur di organisasi lain. Salah satunya dengan menyusup ke Freemansory, organisasi persaudaraan yang juga bersifat tertutup tapi berumur lebih panjang (Tirto.id, 2019).

Pemaknaan simbol illuminati atas karya Masjid Al Safar dinilai sebagai halunisasi. Jelas jika ini merupakan suatu upaya yang berlebihan dengan mempresepsikan simbol segitiga sebagai karya dari illuminati. Pasalnya beberapa arsitektur masjid di Nusantara memiliki bentuk yang menggunakan segitiga sebagai bentuk dasar dari masjid. Berbagai bentuk masjid-masjid di Nusantara memiliki suatu arsitektur yang beranekaragam.

Hal ini adalah buah dari akulturasi budaya yang dihasilkan melalui suatu interaksi antar bangsa. Masuknya budaya menambah khazanah pada arsitektur bentuk bangunan masjid di Nusantara. Arsitektur Masjid Kudus menjadi bukti sejarah yang tidak bisa dilepaskan dari sebuah komspolitan yang diyakini oleh orang-orang Asia Tenggara, khususnya di Nusantara.

Kosmopolitanisme Islam di Asia Tenggara merupakan gaya berpikir, kebiasaan melihat dunia, dan cara hidup yang mengakar dari ajaran Islam yang hakiki. Dengan menganut kosmopolitanisme Islam, khalayak dituntut untuk bersikap terbuka terhadap nilai-nilai universal yang tertanam dalam adat dan kebiasaan orang lain (Aljunied, 2018). Jadi kosmopolitanisme dapat dimaknai keterbukaan terhadap suatu budaya, dan bersikap toleran.

Faktor terbukanya masyarakat Nusantara atas budaya yang masuk juga tidak terlepas dari nenek moyang kita yaitu orang-orang Austronesia. Mereka adalah pelaut ulung yang melakukan penjelajahan ke berbagai wilayah belahan dunia. Dalam perjalanannya mengarungi lautan lepas terjadi suatu persilangan budaya hingga Nusantara menjadi kawasan multikultural. Terjadi eksodus kedatangan orang-orang Austronesia di kawasan Papua pada tahun 1500SM. Keturunan mereka menghuni kawasan kepulauan di Samudera Pasifik yang membentang sejauh Selandia Baru, Pulau Paskah dan Hawaii.

Diaspora Austronesia yang menuju ke arah barat akhirnya mencapai Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Semenanjung Melayu. Beberapa dari mereka menetap di Asia Tenggara daratan dan menjadi nenek moyang orang Champa yang masih merupakan minoritas kecil di selatan Vietnam. (Sulitiyono, 2016).

Proses perjalanan ini mengasilkan suatu penyebaran budaya dan percampuran. Satu hal menarik adalah penelitian yang diungkapkan oleh Callin tekait dampak dari diaspora ini. Dia menjelaskan bahwa wilayah di Indonesia setidaknya ada 706 dialek. Ini maksudnya bahwa Indonesia mempunyai 10 persen bahasa di dunia dengan total 7.106. Kedinamisan telah mengkondisikan sebagian besar kelompok etnis asal tertentu telah kehilangan identitas mereka dan berbaur dengan kelompok etnis yang lebih dominan (Sulistiyono, 2018).

Penjelasan ini telah membuka cakrawala bagi kita bahwa masyarakat Nusantara sangatlah terbuka terhadap budaya dari luar.

Keterbukaan ini secara tidak langsung mempengaruhi segala aspek, termasuk wawasan tentang arsitektur masjid. Aljunaid juga menyampaikan pendapat bahwa masjid merupakan ruang kosmopolitan. Masjid-masjid di Asia Tenggara menunjukkan kadar heterogenitas sebagai lawan dari homogenitas yang tinggi dalam hal estetika.

Disamping itu masjid-masjid di dunia Melayu merupakan pewaris semangat keterbukaan dan toleransi (Aljunied, 2018). Keterbukaan atas arsitektur masjid seperti halnya Masjid Kudus merupakan wujud lagam dari budaya orang-orang Nusantara. Adanya pengaruh Hindu-Budha semakin memperjelas bahwa masjid juga sebagai ruang yang mampu menyesuaikan dengan kebudayaan setempat.

Ketika itu Kesultanan Demak melihat pengaruh Hindu-Buda masih melekat dalam aktivitas sehari-sehari masyarakat. Cara agar menarik masyarakat yaitu melakukan langkah akulturasi atas bentuk arsitektur dari Masjid Kudus. Bangunan masjid dibangun menyerupai candi pada menaranya. Langkah ini dilakukan sebagai upaya agar masyarakat semakin tertarik pada ajaran islam. Serta tidak berpikir bahwa masuknya islam menghapus nilai-nilai tradisi yang ada. Konsep ini merupakan aktualisasi dari sebuah ajaran islam yang berkonsepkan tentang islam nusantara.

Islam Nusantara adalah ekspresi Islam yang disesuaikan dengan nilai-nilai dan tradisi lokal. Konsep ini tidaklah menghapuskan tradisi leluhur. Adanya bentuk Masjid Kudus semakin memperjelas bahwa inilah bentuk Islam Nusantara yang merupakan kosmopolitanisme Islam.

Masjid-masjid lainnya juga menunjukkan bahwa bentuk dari bangunanya tidaklah menghapus nilai-nilai tradisi setempat. Salah satu masjid yang dapat kita jumpai yaitu Masjid Cengho di Pandaan dan Masjid Cengho Surabaya. Masjid ini didesain bentuknya seperti klenteng.

Adanya pemandangan ini memperjelas bahwa masyarakat Nusantara bersikap terbuka serta menghargai kebudayaan setempat.

Dalam hal ini sangatlah berlebihan jika masjid dimaknai sebagai ruang yang homogen atas suatu budaya. Pemaknaan simbol illuminati atas Masjid Al Safar merupakan tindakan halusinasi pada sebuah pemaknaan suatu simbol. Simbol segitiga sesungguhnya bersifat multitafsir dan tidak hanya bermakna simbol illuminati. Masjid merupakan tempat yang terbuka dan setiap bangunanya merupakan hasil akulturasi dari setiap budaya. Oleh karenanya sebagai masyarakat yang memegang teguh atas keberagaman sudah seharusnya bersikap bijak dalam hal ini. Perbedaan bukanlah dimaknai sebagai kehancuran, melainkan suatu anugrah yang menghasilkan persatuan.

Refrensi
Aljuneid, Khairudin, Kosmopolitanisme Islam: Islam Asia Tenggara dalam Prespektif Komparatif, Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2018.
Singgih Tri Sulistiyono, Contest For Seascape: Local alassocracies and Sino-Indian Trade Expansion in the Maritime Southeast Asia During the Early Premodern Period, Journal of Marine and Island Cultures, v7n2, 2018
Singgih Tri Sulistiyono, Paradigma Maritim dalam Membangun Indonesia: Belajar dari Sejarah, Lembaran Sejarah, Volume 12 Number 2 October 2016.
https://tirto.id/mengapa-orang-takut-pada-simbol-illuminati-dan-teori-konspirasi-ecf1, diakses 20 Juni 2019.

Oleh : M. Sukron Aris
Anggota NU’S Media PC IPNU Sidoarjo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here