Bahwa setiap perjalanan akan menemukan akhirnya, biar akhir tersebut adalah tujuan yang dicita-citakan ataupun hanya merupakan awal dari yang lain untuk memulai. Sebuah sentuhan yang gemilang telah di ciptakan. Sentuhan yang menghasilkan organisasi berisi para penerus perjuangan wali songo, ulama-ulama ahlussunah wal jamaah, penerus perjuangan agama dan bangsa Indonesia.
Penulis yang fakir ini akan memulainya dari akhir sebelum mengakhirinya pada hal yang awal. Saat ini baik penulis maupun lainnya, yang mengabdikan dirinya berkhidmah pada organisasi keterpelajaran bernafas ahlussunah wal jamaah tengah merasakan hasil sentuhan gemilang tersebut. Adalah ketidak-etisan dan kemunafikan yang hakiki ketika penulis maupun yang lain meniadakan peranan pendahulu dalam membentuk mental keterpelajaran saat ini. Menganggap bahwa mental keterpelajaran yang dimiliki saat ini adalah hasil yang diperoleh dari pergulatan sendiri dalam berorganisasi. Sejatinya, hasil yang diperoleh adalah juga berkat pendahulu yang telah menciptakan organisasi. Melalui organisasi dengan berbagai aturan dan ideologi hasil olah pikir para pendahulu, kami ditempa dan dididik untuk menjadi pelajar yang tidak tercerabut dari akarnya dan tidak melangit karena modal pengetahuan yang kami miliki. Sebuah kewajiban bila kami harus mengingat pendahulu dan merefleksikan semangat perjuangannya pada diri kami serta meneruskan perjuangan mereka demi tercapainya cita cita organisasi. Sebuah tulisan sederhana dari penulis yang dipersembahkan kepada penulis sendiri sebagai motivasi diri dan kepada rekan-rekanita seperjuangan organisasi khususnya para pelajar NU Sidoarjo.
“Langkah panjangku telah lama kuukur
Aku tak tahu
Berapa lagikah.
Hari-hariku telah berlalu
Dan berapa hari lagi kah
Sudah dekatkah
Langkahku akan berhenti
Dan apakah hari-hariku
Hingga hari ini”

Puisi terakhir yang sederhana namun tersirat banyak makna dengan kisah dibelakangnya telah dibuat, dan akan terus menjadi tugu peringatan yang diharap sebagai penyemangat untuk kita para penerus. Pengharapan yang begitu mulia dari penciptanya untuk para penerusnya, para anak ideologisnya, para mentari timur yang telah bercahya.
Maghrib dengan gerimis dan kesedihannya mengiringi sang profesor menghadap penciptanya. Pada 17 Shafar 1407 H berketepatan 20 Oktober 1986, NU kehilangan anak emasnya. Kesedihan nyata meliputi seluruh warga NU bahkan alam pun ikut menangisi kepergiannya. Prof KH Tolchah Mansoer, seorang biasa yang menjadi luar biasa karena kiprahnya telah waktunya pulang kembali kepada Sang Kholiq dengan meninggalkan organisasi dan karya-karya luar biasa untuk NU maupun nusa dan bangsa.
Kegelisahan hari hari terakhir sang founding father tentang kemanfaatan masa hidup yang telah dijalaninya adalah sebuah kerendahan diri di tengah kondisi masa keemasan yang beliau capai. Di tengah tanggung jawab sebagai jajaran rais syuriah nahdlatul ulama, jabatan yang di berikan kepada beliau pada muktamar terakhirnya. Sebuah epiloge yang begitu indah ketika apa yang diharapkan nya menjadi kenyataan. Berulang kali sang profesor mengatakan ingin meninggal saat beliau menjalankan tugas kepada istri nya yang juga merupakan seorang pendamping setia nya baik dalam kehidupan keluarga maupun organisasi tersebut. Beliau meninggal dengan tenang setelah melewati pergulatan panjang melawan penyakit jantung yang telah di miliki sejak kecil. Tidak bisa dipungkiri bahwa masa hidup beliau hanya diabdikan untuk mencerdaskan kehidupan para penerusnya. Mengabdikan diri untuk organisasi, untuk bangsa dan negara. Sepanjang masa hidup beliau tercatat sebagai seorang pendidik yang tahan banting, tak mengenal menyerah dengan etos pendidik dan pelopor yang luar biasa. Sekali lagi kemanfaatan seperti apa yang beliau pikirkan hingga masih menganggap dirinya belum mengetahui kemanfaatan yang telah ia berikan untuk kita semua. “Dan apakah hari-hariku hingga hari ini”. Sebuah ketawadluan luar biasa yang sepatutnya kita teladani dari profesor NU yang terlupakan ini. Sebuah kalimat yang menegaskan kepada kita bahwa hidup beliau hanya untuk menjadi manusia yang sebaik-baiknya dengan memberikan kemanfaatan bagi orang lain, yakni ketika beliau mengatakan kepada sang istri bahwa “jika sudah tidak bermanfaat ia siap dipanggil oleh Allah SWT”.
Berkali-kali beliau menularkan semangatnya untuk terus menjadi bermanfaat pada setiap kesempatan forum bersama para pelajar-pelajar yang tergabung dalam organisasi, beliau mengatakan bahwa
“betapa pun hebatnya kita ini, kita harus seperti kelapa. Apa itu? Seperti halnya kelapa, kita cuma diperas, ampasnya dibuang, dan ia sendiri tidak ikut apa-apa, Cuma dimakan dan tidak memakan hasilnya sendiri. Saya hanya berkata; yang penting bagi kita adalah berbuat untuk bangsa dan negara saya, apakah itu sebagai warga negara, sebagai sarjana, kalaupun memang masih dihitung sebagai sarjana, sebagai guru, ya sebagai apa sajalah”.
Bukan hanya mengenai kemanfaatan yang beliau maksud, akan tetapi semangat tulus untuk berbuat lebih kepada masyarakat dalam bingkai bangsa dan negara. Memberi namun tidak mengharapkan balasan, mengorbankan diri dengan berbagai cara hanya untuk kebaikan semua. Di sini secara implisit beliau ingin mengatakan kepada semua bahwa tujuan dibentuk organisasi ini adalah sebagai wadah perjuangan para pelajar yang peduli akan nasib bangsanya, nasib agamanya dan nasib masa depan kehidupan pelajarnya. Sebuah catatan penting telah diberikan oleh beliau kepada kita semua bahwa tak perlu menjadi apa-apa kalau kita dengan tulus untuk memberi kemanfaatan kepada orang lain, cukup dengan semangat memberi yang terbaik maka semua itu akan tercapai.

Bersambung…. (TIM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here