Siapa yang tak mengenal sosok Ibu Hj. Anik (sapaan akrab dari masyarakat kepadanya). Beliau adalah Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Timur Periode Fraksi PKB Periode 2019-2024 yang resmi di lantik oleh Wakil ketua Pengadilan Tinggi Surabaya Dr. Siswadriyono, SH, M.Hum pada tanggal 13 Januari 2020 di Gedung DPRD Jatim Jalan Indrapura.

Pada kesempatan yang lain, di hari Minggu, 26 Januari 2020; beliau berkesempatan mengisi salah satu materi tentang Analisis Gender pada kegiatan Latian Kader Utama (LAKUT) tahun 2020 yang di adakan oleh PC IPNU IPPNU Kab. Sidoarjo di Villa Mutia Arofah Pacet. Kegiatan tersebut di ikuti oleh 39 Kader IPNU IPPNU terbaik yang merupakan delegasi dari masing-masing PAC di Kab. Sidoarjo. LAKUT yang bertemakan Menempa kader Total, Royal, Milleneal berkarakter Ahlusunnah Wal Jamaah An Nahdliyah.
Pada umumnya perempuan di dalam organisasi banyak yang diidentikkan dengan peran sebagai sekretaris ataupun bendahara, namun jarang yang condong ke arah pemimpin organisasi atau sebagai penguasa. Hal ini jelas merepresentasikan peran perempuan di dalam sebuah keluarga, bahwasanya tugas perempuan itu hanya dalam ranah mengurus keuangan, dan dalam tataran rumah tangga saja. Sebenarnya posisi sebagai seorang pemimpin untuk saat ini bukan hanya diperuntukkan bagi kalangan laki-laki, bahkan sekarang posisi sebagai seorang pemimpin sudah terbuka lebar bagi kalangan perempuan. Hal itu sangat jelas sekali terlihat dalam ideologi bangsa kita yaitu yang terkandung dalam nilai-nilai Pancasila pada sila ke-5, yang menyebutkan “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Dari sila ke-5 tersebut sangat jelas bahwa ideologi bangsa ini menyiratkan akan kesetaraan hak bagi seluruh kaum, baik itu perempuan maupun laki-laki. Hak dan kewajiban bukan hanya dimiliki oleh satu kalangan tertentu, akan tetapi diperuntukkan bagi setiap elemen masyarakat Salah satu wacana yang dapat dipetik dari ideologi bangsa Indonesiaadalah mengenai konsep kesetaraan gender. Hal ini juga diperkuat dengan adanya peraturan perundang-undangan mengenai Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG) Tahun 2012. Selain itu juga diperkuat lagi dengan Inpres No. 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) dalam Pembangunan Nasional. Walaupun aturan mengenai kesetaraan gender tersebut sudah ada, namun masih peran perempuan dalam pendidikan dan berorganisasi masih sangat minim, padahal kesempatan bagi kaum perempuan sudah sangat terbuka lebar dalam ranah pendidikan dan organisasi.
Dalam memahami kajian kesetaraan gender, seseorang harus mengetahui terlebih dahulu perbedaan antara gender dengan seks (jenis kelamin). Kurangnya pemahaman tentang pengertian Gender menjadi salah satu penyebab dalam pertentangan menerima suatu analisis gender di suatu persoalan ketidakadilan sosial.
“seks (jenis kelamin) merupakan perbedaan antara perempuan dengan laki-laki secara biologis sejak seseorang lahir. Seks (jenis kelamin) berkaitan dengan tubuh laki-laki dan perempuan, dimana laki-laki memproduksikan sperma, sementara perempuan menghasilkan sel telur dan secara biologis mampu untuk menstruasi, hamil dan menyusui. Perbedaan biologis dan fungsi biologis laki-laki dan perempuan tidak dapat dipertukarkan diantara keduanya”. Sedangkan secara etimologis, gender memiliki arti sebagai perbedaan jenis kelamin yang diciptakan oleh seseorang itu sendiri melalui proses sosial budaya yang panjang. perbedaan perilaku antara laki – laki dengan perempuan selain disebabkan oleh factor biologis juga faktor proses sosial dan kultural. oleh sebab itu gender dapat berubah – ubah dari tempat ke tempat, waktu ke waktu, bahkan antar kelas social ekonomi masyarakat. Dari uraian di atas dapat disimpulkan perbedaan antara jenis kelamin dengan gender yaitu, jenis kelamin lebih condong terhadap fisik seseorang sedangkan gender lebih condong terhadap tingkah lakunya. Selain itu, jenis kelamin merupakan status yang melekat atau bawaan, sedangkan gender merupakan status yang diperoleh. Gender tidak bersifat biologis, melainkan dikontruksikan secara sosial. Karena gender tidak dibawa sejak lahir, melainkan dipelajari melalui sosialisasi, oleh sebab itu gender dapat berubah. Setelah mengetahui perbedaan jenis kelamin dengan gender, maka langkah selanjutnya yaitu kita dapat memahami pengertian “Kesetaraan Gender”.
Kesetaraan Gender merupakan kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, hukum, ekonomi, sosial budaya, pendidikan dan pertahanan dan keamanan nasional (HANKAMNAS), serta kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan tersebut. Kesetaraan gender juga meliputi penghapusan diskriminasi dan ketidakadilan struktural, baik terhadap laki-laki maupun perempuan.
Terlebihnya, kita bisa menjadikan Ibu Hj. Anik sebagai figur yang tepat dalam kesetaraan gender, bagaimana tidak, beliau dengan gigihnya dalam perjuangan maupun pengabdian bagi Nusa dan Bangsa, pengalaman beliau dalam ber-Organisasi sudah tidak perlu di ragukan lagi, Ibu Hj. Anik yang juga pernah menjabat sebagai ketua PC IPPNU Kab Sidoarjo. ketika ada seseorang ada yang bertanya kepada beliau, beliau dengan tegas menjawab “Saya bisa menjadi seperti ini karena pernah ber IPPNU”. Beliau berpesan kepada kader IPPNU yang ada di forum LAKUT tersebut, untuk terus belajar, tidak pantang menyerah, dan harus memiliki posisi yang strategis, sehingga bisa memperjuangkan hak-hak perempuan. Nailur Rizqi salah satu peserta LAKUT delegasi dari PAC Taman mengatakan “kita ini dilahirkan dengan keanekaramaan ciptaan tuhan, kita tidak bisa menentang kodrat yang sudah terjadi pada diri kita, tetapi akan menjadi lebih baik apabila antara laki-laki dan perempuan saling bersinergi dalam mengembangkan sebuah keilmuan maupun organisasi karena sejatinya tuhan menciptakan tidak lain adalah untuk saling melengkapi satu sama lain”.

Oleh : Nailur Rizqi

Peserta LAKUT 2020 PC IPNU IPPNU SIDOARJO

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here