NU (Nahdlatul Ulama) merupakan organisasi islam yang berhaluan Ahlussunnah Wal Jama’ah An – Nahdliyah yang didirikan pada tanggal 31 Januari 1926 (16 Rajab 1344 H) oleh Hadratussyekh K.H. Hasyim Asy’ari dan termasuk organisasi Islam terbesar di Indonesia.
Dari perhitungan sejak tanggal lahirnya hingga tahun 2020 ini, Nahdlatul Ulama telah mencapai usia ke-94, dan di tahun 2026 nanti usia Nahdlatul Ulama akan menjadi 1 abad sehingga Nahdlatul Ulama harus semakin teliti untuk melihat tantangan-tantangan kedepan yang menjelang usia 1 abad. Apalagi saat ini kelompok Islam radikalis semakin gencar melakukan penyebaran ideologi mereka yang ingin mendirikan negara Islam (khilafah) di Indonesia.
Sebagai wadah organisasi terbesar di Indonesia tentu NU harus betul-betul bertindak cepat untuk membendung gerakan kelompok Islam radikalis untuk berusaha mendirikan negara Islam di Indonesia. Ada dua tahap yakni tahap pertama yang dimulai dengan dakwah para ustadz atau kyai NU secara langsung yang ditunjukkan kepada kalangan masyarakat. Dengan memberikan dalil ataupun hadits tentang amaliyah dalam kehidupan sehari-hari sehingga bisa memperkuat ASWAJA dan masyarakat juga tidak mudah terpengaruh oleh faham-faham radikalis. Terutama untuk masyarakat di kalangan bawah lebih cenderung hanya melakukan amaliyah saja dan kebanyakan bahkan tidak tau apa dasar hukum dari amaliyah yang mereka lakukan sehingga mereka mudah untuk di pengaruhi oleh orang-orang dari kelompok radikal.
Tahap yang kedua peran Nahdlatul Ulama harus lebih memanfaatkan dan mengoptimalkan media sosial sebagai sarana dakwah karena dilihat perkembangan zaman sekarang orang-orang lebih condong menggunakan media sosial. Apalagi orang kalangan menengah yang sibuk dengan aktivitas dan pekerjaannya sehingga tidak sempat untuk belajar agama secara langsung kepada ustadz atau kyai. Disinilah yang harus diperhatikan oleh Nahdlatul Ulama untuk mengoptimalkan media sosial sebagai sarana dakwah, para kyai maupun da’i NU harus terjun langsung untuk mengisi dakwah di ruang media sosial sehingga media sosial tidak lagi dikuasai oleh da’i diluar NU.
Bisa kita lihat pada youtube jumlah subscriber da’i diluar NU sangat banyak sekali, sebagai contoh ustadz Khalid Basalamah jumlah subscriber-nya mencapai 1,22 juta belum lagi ustadz Hanan Attaki dengan jumlah subscriber 977 ribu, sedangkan di instagram ustadz Khalid Basalamah mempunyai jumlah followers sebanyak 1,5 juta dan ustadz Hannan Attaki mencapai 8 juta followers. Jumlah ini lebih banyak dari da’i NU yang mempunyai akun youtube maupun media sosial yang lain.
Jika Nahdlatul Ulama tidak berhasil menguasai media sosial sebagai sarana dakwah bukan tidak mungkin jika pada usia 1 abad nanti Nahdlatul Ulama akan semakin berkurang anggotanya, karena masyarakat lebih sering mendengarkan ceramah da’i atau kyai selain Nahdlatul Ulama. Maka dari itu kita harus berusaha semaksimal mungkin agar semua itu tidak terjadi, dan Nahdlatul Ulama semakin berkembeng pesat.

Oleh : Muhammad Fariz Ali Muzakki

Peserta LAKUT 2020 PC IPNU IPPNU SIDOARJO

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here