Beberapa orang yang sudah mengenal dan mengetahui tentang apa itu IPNU pasti mengarah kepada sebuah organisasi keagamaan yang anggotanya terhimpun dari kader-kader beriman yang fasih tentang keagamaan. Namun dari semua itu, saya memilih sudut pandang lain tentang IPNU dan bagaimana seharusnya IPNU menurut pandangan saya. Sebab jika kita masih senantiasa membungkus IPNU melalui sudut pandang keagamaan. Sama halnya hanya akan mengkotakkan IPNU pada ruang terbatas, yang bisa saja akan menghalangi seseorang yang ingin bergabung di IPNU namun dengan latar belakang yang cenderung minder (non agamis) dengan lingkungan agamis. Dan ini sudah terjadi, ketika sekali waktu saya mengajak teman saya yang terlahir islam namun dengan latar belakang keluarga dan lingkungan yang tidak begitu mengutamakan nilai-nilai keagamaan. Dia berkata bahwa IPNU bukan tempat yang pantas untuk berandalan sepertinya, ia beranggapan bahwa IPNU adalah wadah berkumpulnya para santri yang kental dengan keimanan dan keagamaan,dan dia menyatakan diri tidak pantas bergabung di IPNU.

Jika sudah demikian, apa yang harus kita lakukan ?, apakah cukup dengan mengatakan “ya sudah, biarlah” atau memilih untuk acuh kemudian menganggapnya bukan sebagai permasalahan yang penting untuk di bahas, atau apa ?. Namun bagi saya, ini adalah sesuatu yang perlu dikoreksi. Beberapa orang mungkin akan setuju dengan anggapan seperti di atas, namun saya akan memilih untuk tidak sependapat dengan itu. Sebab harapan saya IPNU bisa melebarkan sayap pergerakannya yang bukan hanya berisi tentang pelajar yang fasih ilmu agamanya. Namun lebih menjadi sebuah wadah terbuka untuk siapa saja yang ingin belajar dan  memperjuangkan hasil belajar yang telah ia lakukan, untuk kemudian mencapai ketaqwaan sebagai umat manusia yang sesungguhnya. Inilah tempat kita untuk berbenah, tempat belajar untuk menjadi manusia yang lebih berguna dan bermanfaat bagi masyarakat secara keseluruhan. Seperti sebuah kutipan yang pernah di katakan oleh KH. Tolhah Mansoer “Cita-cita IPNU adalah mencetak orang berilmu yang dekat dengan masyarakat, bukan calon kasta elite di dalam masyarakat”. Melalui kutipan tersebut bisa kita amati, bahwa tidak ada kata agama yang tersemat dalam kutipan tersebut.

“Mencetak orang berilmu”, saya rasa kita perlu fokus dalam kalimat tersebut. Sebab ilmu bisa mengarah kepada hal apa saja, bukan hanya melulu soal ilmu keagamaan meski organisasi ini di dirikan oleh seorang Ulama. Oleh sebab itulah saya lebih memilih menganggap bahwa IPNU adalah pesantren terbuka untuk siapa saja yang mau belajar. Selama menjadi anggota IPNU, sebisa mungkin saya menyembunyikan kesan keagamaan yang ada dalam diri saya secara pribadi. Kemudian saya terapkan dalam berorganisasi dengan cara menampilkan kegiatan IPNU tanpa melibatkan dan membawa embel-embel agama. Memang ini  sedikit aneh bagi beberapa orang yang sudah mengenal IPNU sebelumnya. Namun ini bukan semata-mata untuk menghilangkan nilai keagamaan yang ada di IPNU. Lebih kepada, agar pergerakan IPNU bisa lebih luas lagi jangkauannya dan pergerakan IPNU bisa lebih berwarna dari sebelumnya.

Pernah sekali waktu saya beserta teman-teman sebagai anggota Pimpinan Anak Cabang IPNU & IPPNU mengadakan acara diskusi terbuka di salah satu cafe di sekitar rumah saya, dalam acara tersebut kami mengundang Pimpinan Ranting dan Komisariat setempat, kemudian kami juga mengundang pemateri sebagai pemantik diskusi dalam acara tersebut. Acara berjalan sebagai mestinya dan cukup banyak yang menghadiri diskusi tersebut. Bukan hanya anggota IPNU maupun IPPNU saja yang mengikuti diskusi tersebut, akan tetapi juga pengunjung cafe yang mayoritas berusia pelajar. Hsl itu memang tujuan kami untuk mengenalkan IPNU IPPNU yang bukan hanya sebatas organisasi keagamaan kepada pengunjung cafe yang ada di sana. Beberapa hari kemudian saya mendapat teguran dari salah satu orang yang tidak setuju dengan apa yang kami lakukan, oleh sebab menurutnya kegiatan IPNU IPPNU seharusnya diadakan di masjid, mushollah atau tempat yang lebih mendukung untuk sebuah kegiatan organisasi keagamaan. Tentu hal tersebut tidak sesuai dengan yang terlintas dalam pandangan saya secara pribadi.

Bukan hanya itu saja, di hari berikutnya saya mendapati sebuah teguran dengan objek kritik yang berbeda dari sebelumnya. Kali ini perihal baju seragam yang kami kenakan. Karena konsep acara ini adalah sebuah diskusi terbuka, panitia berinisiatif untuk tidak mengenakan atribut IPNU maupun IPPNU. Kami cukup dengan mengenakan kemeja dengan warna yang sama kemudian menyesuaikan diri dengan gaya fashion masing-masing panitia dengan konsep kasual. Pengkritik berkata bahwa jika kita mengadakan acara IPNU ataupun IPPNU sebaiknya kita mengenakan atribut IPNU dan IPPNU juga, agar orang lain tau bahwa ini adalah acara IPNU. Oke, saya tidak menyalahkan pendapat tersebut, akan tetapi jangan paksa saya untuk menyetujuinya.

Tentu saya tidak setuju dengan pandangan tersebut. Kembali kepada tujuan saya dalam organisasi ini, melebarkan sayap pergerakan dan membuat perubahan. 66 tahun IPNU berdiri, saya rasa ini adalah waktu dimana kita sebagai anggota IPNU di hari ini untuk banyak berulah dan menjadi pelopor sebuah perubahan.  Tanggapan di atas saya rasa hanya akan membuat seolah IPNU akan menjadi pamer, pamer bisa membuat acara ini itu, pamer bisa mengundang banyak orang dan lain sebagainya yang tentu saya tidak suka. Bagi saya IPNU sudah tidak butuh pengakuan apapun dari pergerakannya.

Anggapan saya, jika dalam acara tersebut kita mengenakan atribut organisasi, itu hanya akan menghalangi niatan orang lain untuk turut serta dalam acara yang kami laksanakan. Oleh karena mereka merasa bukan orang dari golongan kita dan mereka merasa tidak seharusnya mengikuti jalannya acara. Sedangkan tujuan program yang kami jalankan tidak hanya mengerucut untuk sebatas anggota IPNU & IPPNU saja, tetapi juga masyarakat secara keseluruhan, entah itu NU atau bukan NU, bahkan entah itu dari agama lain, kami akan senantiasa terbuka. Melalui cara itulah kami mencoba untuk mewujudkan Islam yang Rahmatanlilalamin. Ya, meski sebenarnya kami belum begitu berkompeten untuk melakukan hal tersebut.

Bagi saya IPNU bukan hanya sebatas organisasi keagamaan, karena saya rasa IPNU sudah terlalu ber-agama untuk membicarakan soal agama. Bagi saya IPNU adalah wadah perjuangan sosial untuk menyetarakan pelajar umum dengan santri yang ada di pesantren. Bagi saya IPNU adalah Pesantren terbuka, untuk siapa saja yang ingin belajar dan memperjuangkan hasil belajar tersebut, untuk kemudian mencapai ketaqwaan sebagai umat manusia yang sesungguhnya, sesuai dengan motto pergerakannya “Belajar, Berjuang, Bertaqwa”. Bagi saya IPNU adalah Sekolah, tempat dimana saya menemukan tujuan hidup. Yang kemudian membuat saya sadar,bahwa ternyata ada lebih penting dari hanya sekedar menjadi sukses dan kaya raya, yaitu berguna bagi siapa saja dan apa saja.

IPNU adalah Pesantrenku, entah apa IPNU bagimu ?

– LAKUKAN SAJA –

 

Penulis : M Afif Fawaid / Alumni Terbaik LAKUT 2020 PC IPNU IPPNU Sidorajo

Editor  : Muh Hisyam Rohman / Wakil Ketua 2 PC IPNU Sidoarjo

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here