Kasus perundungan dan kekerasan terhadap anak masih terjadi didunia pendidikan kita saat ini. Meskipun berbagai cara dan langkah untuk melakukan pencegahan dan juga penindakan terhadap pelaku, tetapi perundungan tak pernah surut bahkan dari waktu ke waktu masih tetap terjadi dan semakin membuat risau.

Perundungan atau tindakan Bullying merupakan tindak kekerasan terhadap anak yang mengancam dan menimbulkan luka terhadap jiwa korban perundungan. Kata Bullying sendiri berasal dari Bahasa Inggris yakni kata bull yang artinya banteng yang senang merunduk kesana kemari, dan dalam bahasa Indonesia, secara etimologi kata bully yang berarti penggertak, orang yang mengganggu orang lemah.

Menurut Ken Rigby dalam Astuti (2008 ; 3, dalam Ariesto, 2009), mendefinisikan bullying sebagai “sebuah hasrat untuk menyakiti. Hasrat ini diperlihatkan ke dalam aksi, menyebabkan seseorang menderita. Aksi ini dilakukan secara langsung oleh seseorang atau sekelompok yang lebih kuat, tidak bertanggung jawab, biasanya berulang, dan dilakukan dengan perasaan senang.”

Tindakan perundungan seperti itu sering ditujukan kepada orang/kelompok tertentu dikarenakan adanya sebuah perbedaan baik perbedaan ras, agama, jenis kelamin, orientasi seksual, penampilan, bahkan sampai kondisi fisik seseorang.

Korban-korban perundungan, biasanya terjadi disekolah jika anak tersebut dinilai “aneh” oleh temannya, anak yang kuper (kurang pergaulan), anak yang kebiasaanya berbeda dengan temanya, biasanya cepat atau lambat anak tersebut akan menjadi korban perundungan. Kekurangan maupun kelebihan secara fisik tak luput menjadi korban perundungan.

Cyberbullying

Perkembangan teknologi informasi di era digital seperti ini membawa manfaat yang sangat besar bagi para pelajar. Pelajar dimudahkan untuk mencari informasi secara cepat. Perkembangan teknologi informasi di era digital ini bagaikan dua mata uang. Disisi lain bisa membawa manfaat disisi yang lainnya bisa juga merugikan. sehingga di butuhkan literasi untuk bisa menggunakan dengan bijak teknologi informasi yang ada saat ini. Tindakan perundungan pun juga mengikuti jamannya. Tindakan perundungan yang dulu dilakukan secara offline/berkontak fisik langsung, di era saat ini juga mulai merambah ke dunia daring (online). Perkembangan teknologi informasi dan juga penggunaan media sosial, peluang untuk menjadi korban cyberbullying menjadi sangat terbuka. Ini dikarenakan keterbukaan informasi yang memiliki ruang untuk bisa diakses orang lain. Sehingga korban terus menerus mendapatkan pesan negatif yang bersifat intimidatif dan memalukan dari para pelaku bullying.

Para pelaku bullying melakukan perundungan kepada korban bermacam-macam. Secara umum, cyberbullying lebih berpeluang dilakukan dengan cara mengambil keuntungan dari teknologi informasi yang memiliki karakteristik yang tanpa harus bertatap muka dan juga identitas yang bisa disembunyikan tanpa diketahui para korbannya. Ini merupakan sebuah masalah sosial yang dihadapi bangsa ini. Pemerintah dan seluruh masyarakat harus bersama-sama untuk menyelesaikan masalah sosial ini. Kepastian hukum dan juga upaya pencegahan harus selalu ditingkatkan. Gerakan-gerakan seperti zero bullying harus selalu dikampanyekan. Yang perlu diperhatikan juga yakni literasi media juga harus selalu diperhatikan untuk menghindari dari cyberbullying. Jika seluruh komponen bangsa  tidak serius untuk menangani permasalahan sosial ini bukan tidak mungkin masalah seperti ini akan terus terjadi di bangsa ini. Maka dari itu dibutuhkan komitmen yang serius untuk menyelesaikan masalah sosial ini. Sudah saatnya pelajar di indonesia terbebas dari perundungan atau bullying. Mari kita stop bullying dimulai dari diri kita sendiri.

 

 

Penulis : Muhammad Zakariya / Alumni Terbaik LAKUT 2020 PC IPNU IPPNU Sidoarjo

Editor  : Muh Hisyam Rohman / Wakil Ketua 2 PC IPNU Sidoarjo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here