Aku telah mengerti, bagaimana kita akan selalu menjadi senja yang di puja sekaligus dibenci. Dimana kita akan selalu saling merindu namun juga saling meniadakan, saling menikmati namun juga saling menikam. Kita adalah senja yang selalu hadir sebagai perubahan dari siang menjadi malam. Kita adalah siang yang dibenci kerana teriknya namun di puja kerana terangnya. Kita adalah malam yang di inginkan sendunya dan diabaikan kerana gelapnya. Kau ingat dik waktu itu?, seperti saat kita selalu bersama di separuh waktu malam, bercerita tentang hari-hari yang lalu. Mendusta pada malam, bahwa ini masih terlalu dini untuk kita sudahi. Lalu kita tertawa, memaki segala mesra yang terlewat karena mengabaikan kita berdua. Kau tahu dik, dimana kuletakkan doaku? Yaitu diantara namamu dan sifatNya yang suci.

Kuhabiskan malamku ketika tidak bersamamu? Yakni aku  selalu memikirkan kebaikanmu dan mendoakanmu untuk kemadanian masa depan kita berdua, di dalam rumah yang sedikit reyot ini. Masih terpatri dalam benakku, bagaimana mungkin di tengah perjalanan kisah kasih kita, kau rela meninggalkanku dengan segala kekalutan dalam rumah ini. Bahkan dengan bersahaja, elegan namun murahan kau memperparah kekacauan rumah ini. Tak habis pikir aku dengan ulahmu itu dik !. Apa gerangan yang merasukimu hingga kau tega menyakitiku beserta segala ruang yang ada dalam rumah ini. Cinta apa dan siapa yang kau bicarakan serta kau bawa  dalam rumah yang kita idamkan untuk masa depan kita ini dik?.  Dulu kita bergandengan mesra dan kadang saling berpeluk hingga pipi kita menempel. Berucaplah bibir kita masing-masing dengan kata-kata manis bahwa rumah ini akan selalu menjadi milik kita bukan milik yang lain. Kita akan bangun ruang-ruang rindu didalamnya sehingga kita akan selalu mempunyai alasan untuk pulang dimanapun kita berada. Masih kau ingat itu dik?

Wahai adikku yang kusayang, sebagaimana telah terlukiskan dalam sejarah Nabi-nabi. Bahwa semua akan selalu menjadi mungkin ketika kita yakin atas kuasaNya. Maka dari itu aku yakin bahwa kita akan bersama kembali dalam rumah ini. Kau akan pulang pada tempat asalmu, dimana kau selalu mendapatkan berlebih kasih dan cinta seperti sedia kala. Bahwa kita akan menjadi utuh kembali,   dan kau menerima segala yang ada dalam rumah ini. Aku yakin dik, bahwa kau akan kembali pulang ketika kau melepas semua rasa cinta lain yang kau bawa sekarang itu. Kembalilah mencinta padaku dan akan kubawa kau ketempat dimana kau seharusnya berada. Akhirnya akan kuakhiri suratku ini padamu dik, dengan membayangkan kau telah bersamaku dan kita akan membangun kemadanian kita, beserta segala ruang di dalam rumah ini.

 

Dari yang selalu mencintaimu dan mengharapkan keutuhan bukan remah-remah  kita berdua. Salam rindu dan titik dua bintang untukmu.

 

Note : penulis menganalogikan “rumah” sebagai NKRI, “dik” sebagai teman-teman HTI dan “aku” sebagai terserah kalian mau menjadikan apa.

 

Ditulis Oleh : Muh Hisyam Rohman/ Wakil ketua 2 PC IPNU Sidoarjo

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here