“Bagaimana kabarmu, masih bahagia kan ?”, sebuah pesan masuk ke gawai yang sedang saya mainkan. Sedikit kaget, karena tidak menyangka ada pesan darinya yang telah lama tak saling berkabar. Segera saya menyiapkan jawaban dan mental untuk menjawab pesan singkatnya. Jangan sampai menjadikan saya mengulangi kesalahan fatal waktu silam, karena salah berucap padanya pada kesempatan langka ini. Pesan balasan telah terkirim padanya, telah dibaca tapi tidak langsung dibalas. Saya tidak ingin berburuk sangka sekarang terhadapnya, apalagi setelah hampir dua tahun tak pernah komunikasi. Setahu saya, dia sekarang berada di negeri orang merampungkan pendidikan strata duanya. Sebuah pilihan yang dulu cukup mengejutkan saya, mengingat dia pernah berkata tidak tertarik kuliah di luar negeri bahkan hanya sekadar melancong kesana. Berperawakan sedang cenderung kurus, dia adalah manusia yang terbilang keras memegang apa yang diyakininya benar. Tak jarang, sering menabrak pakem-pakem sosial demi membuktikan kebenarannya. Dengan begitu dia merasa lebih bahagia katanya. Terakhir saya bertemu, kita berdebat keras mendefinisikan apa itu kebahagiaan. Menurutnya, kebahagiaan hanya bisa diperoleh ketika dia berbeda dengan yang lain, dan mampu mencapai tujuannya meski dianggap gila oleh orang lain. Saya ingat, dia mengatakannya sambil berdiri di atas meja bundar kecil reyot, berorasi layaknya presiden menyampaikan pidato kenegaraan.

Hampir sepuluh menit tak kunjung ada pesan balasan, sedang pikiran saya masih sibuk mengulik ingatan tempo lalu. Kita tidak pernah bersepakat tentang definisi bahagia semenjak debat terakhir waktu itu. seingat saya, dalam debat tersebut saya selalu menyergah pendapatnya dengan mengatakan, bahwa dia melupakan berdamai dengan diri sendiri dan lingkungan. Padahal hal itulah yang akan menyempurnakan kebahagiaan jiwa. Ya, berdamai itu sangat perlu karena hal itu menjadikan kita lebih tenang dalam apapun. Baginya, hal itu hanya omong kosong belaka. Kita ini manusia yang tak akan lepas dari konflik katanya, dan dengan konflik itu lah manusia berkembang menjadi pribadi yang unggul yang akhirnya mampu mencapai tujuannya. Jika tujuan tercapai maka pasti bahagia datang dengan sendirinya. Kurang ajar memang dia ini, terlalu pintar untuk hanya bisa ditaklukkan dalam waktu singkat.

Tepat lima belas menit, pesan balasan nya masuk berbarengan dengan pidato presiden menjelaskan kondisi negara saat ini. Presiden Joko Widodo “Artinya, sampai ditemukannya vaksin yang efektif, kita harus hidup berdamai dengan Covid-19 untuk beberapa waktu kedepan”. Balasan Pesan “teman” saya menjelaskan “Aku tidak bisa pulang, negara ini sedang di lock down entah sampai kapan. Semua masih serba tidak menentu disini kecuali mulai terlihat ke-putus-asa-an di warganya. Doakan aku, melalui semua ini dengan baik”. Semesta memang penuh misteri, tidak pernah terpikir oleh saya, bagaimana caranya semua ini terhubung dan saling berkaitan. Sekarang giliran saya tidak langsung membalas pesannya. Mendadak menjadi filsuf, meresapi bagaimana bisa berkaitan, apa yang disampaikan presiden dengan balasan pesan darinya. Dunia sedang menanggung luka dan derita yang sama. Di pojokan eropa dan sudut kota ini sama saja, sama-sama menderita. Baru tiga bulan yang lalu, kita semua menganggap terutama pengatur urusan negara mengatakan bahwa Indonesia tidak mungkin terkena Covid-19. Selang sebulan setelahnya kasus pertama terlaporkan dan membengkak hingga belasan ribu terjangkit medio Mei ini.

Bagi Indonesia yang menyatakan diri sebagai negara beragama, dengan pemeluk agama islam sebagai mayoritas, kondisi sekarang (pandemi Covid-19 dan lebaran) adalah hal yang sulit. Ritual-ritual keagamaan dan budaya lebaran khas Indonesia dalam posisi yang menyulitkan baik bagi pemeluknya maupun negara. Negara tidak mungkin vis a vis dengan agama dan pemeluknya. Agama dan  pemeluknya tidak mungkin juga melawan negara yang itu juga bearti menantang maut melawan virus. Namun sulit juga meninggalkan ritual-ritual agama dan budaya lebarannya. Ada yang harus dikorbankan, yang paling tidak membawa dampak kerugian besar itu lah yang patut dikorbankan sebagai pilihan rasional nya. Selanjutnya kita harus tetap merasa bahagia masa ini dan  kedepannya.

Kita harus berdamai, berdamai kita seharusnya, seharusnya kita berdamai. Presiden telah bertitah, lucu sekali saya pikir. Presiden seakan mengamini apa yang telah menjadi keyakinan saya, meskipun ditentang teman saya bahwa berdamai adalah kunci menggapai solusi kebahagiaan. Di seberang istana, mantan kopatriot presiden bersuara, “disuruh berdamai, lha virusnya tidak mau berdamai”. Saya begitu terpingkal-pingkal mendengar dagelan ala alumni istana ini. Ingin saya membalas pesan teman saya ini dengan menceritakan apa juga yang terjadi di sini dan para tingkah elitenya. Namun, tak sampai hati saya mengirimkannya di tengah kondisinya sekarang dengan menambah beban pikiran baru tentang masalah disini. Jika saya jadi membalasnya dengan bercerita demikian itu berarti menasbihkan kemenangan debat lamapu bahwa keyakinan saya saja di dukung oleh presiden. Toh saya pikir dia diam-diam juga telah mengakui pendapat saya yang benar. Saya yakin sekali itu, karena terdengar kabar bahwa ia kuliah di luar negeri tak lain hanya ingin berdamai dengan dirinya sendiri jauh dari tempat asal yang begitu banyak luka hati dari pada menuntut ilmu sebagai tujuannya.

Saya hanya membalas nya dengan doa yang di inginkannya. “selamat hari raya idul fitri, idul fitri tentang kita yang telah menjadi suci kembali dan mampu menerima dan akan menerima keadaan dengan ikhlas. Mampu menciptakan pelita bagi kegelapan hati sendiri dan sekitar. Bukan tentang kau harus hadir di tempat asal, berjabat tangan tanpa keihklasan hati untuk memaafkan. Idul Fitri selalu suci meski ditengah pandemi atau apapun masalah di dunia ini. Meski jika itu kau tidak mengakuinya, tapi bagi para pemegang teguh ajaran agama idul fitri akan selalu suci. semoga kamu bisa melalui ini dengan baik dan selalu bahagia”. Pesan terkirim berbarengan dengan doa yang melangit untuk kehidupan kedepan yang lebih baik.

 

Penulis : Al faqir Muh Hisyam Rohman / Wakil Ketua 2 PC IPNU Sidoarjo

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here