Fardlu ‘ain hukumnya para santri menjaga dan melestarikan ajaran  Ahlussunnah Wal Jama’ah An Nahdliyah, baik di lingkungan pesantren maupun di tengah-tengah masyarakat. Ada pembeda tersendiri ketika Nahdlatul Ulama (NU) menyebut ajaran Ahlussunnah Wal jama’ah dengan kelompok lain, NU menambahkan kata An Nahdliyah dibelakangnya. Hal ini menjjadi ciri khas ajaran Ahlusunnah wal jamaah ala NU. Pelestarian ajaran tersebut telah di wasiatkan oleh para kyai dan diyakini oleh para santri sejak dahulu. Selain karena Nahdlatul ‘ulama dilahirkan oleh para kyai dan para santri, juga karena Nahdlatul Ulama sanad keilmuannya yang di pelajari di pesantren bersambung dari guru-guru hingga sampai pada Rasulullah SAW dan tetap di lestarikan di Nahdlatul ‘ulama.

Berbicara tentang santri di Nusantara tidak terlepas dari Syaikhona Kholil Bin Abdil Latif dan pulau maduranya, karena hampir ulama nusantara berguru dan bersambung sanad pada beliau di zamannya. Santri-santri se pulau Madura hampir semua berqiblat pada sang maha guru. dalam ilmu agama maupun kehidupan sehari-harinya/tingkah laku sosialnya. Berikut saya gambarkan bagaiman orang madura sangat menghormati syaikhona kholil dan menjunjung tinggi Ke NU annya.

Ngireng Syaikhona Kholil

Cerita kekaromahan Syaikhona Kholil saat mentalqin santrinya yang bodoh dan baru saja meninggal, cukup tersohor di dunia pesantren. Kalimat beliau cukup menggelitik pentakziah yang saat itu ikut melayat. Syaikhona kholil berkata “cong deggik mun etanyah agih malaikat cokop jeweb nkok santrenah Syaikhona Kholil (nak kalau nanti kamu ditanyain malaikat cukup jawab aja saya santrinya Syaikhona Kholil)” talqinnya. Hal ini bukannya Syaikhona meremehkan malaikat tapi lebih dari itu Syaikhona ingin meringankan santrinya dalam hisab. searang malah sudah menjadi jimat bagi santri Madura dalam segala hal. Akhlak, tasawwuf, fiqih bermasyarakat, dakwah dll santri Madura ngireng Syaikhona Kholil (ikut Syaikhona Kholil) di sinilah sanad pertanggung jawaban seorang guru dan tali pegangan santri agar tetap mengikuti gurunya

Angu’an Pote Tolang deri pada Pote Matah

Pepatah Madura angu’an pote tolang dari pada pote matah (lebih baik putih tulang dari pada putih mata yang artinya lebih baik mati untuk mempertahankan harga diri). Begitu pula santri Madura dalam menjaga Ahluussunnah Wal Jama’ah An Nahdliyah bukan hanya pandai berargumen sesuai kitab salafussholih tapi juga lihai mengayunkan cerlurit/membela diri pada pihak-pihak yang merongrong aqidahnya dan menganggu guru, orang tua, serta harga dirinya. Mungkin terdengar  sadis tapi itulah gambaran santri Madura dalam menjaga aswaja.

Tang Agemah NU

Orang awam yang kelahiran Madura saat di tanya agamamu apa? maka dengan gampangnya mereka jawab tang agemah NU (agamaku NU) bukan karena ke fanatikan buta, tapi yang awam saja berhati-hati, waspada dan paham betul akan perbedaan di luar NU. Apalagi santri Madura. Orang Madura dan santri-santrinya sudah harga mati menjaga Ahlussunnah Wal Jama’ah An Nahdliyah.

 

Penulis : M. Jamaluddin Malik / Alumni Terbaik LAKUT 2020 PC IPNU IPPNU Sidoarjo

Editor  : Muh Hisyam Rohman / Wakil Ketua 2 PC IPNU Sidoarjo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here