Bagian sebelumnya, KH Hasyim Asy’ari menolak pemahaman Muhammad Abduh tentang Neo sufi nya, Selanjutnya beliau menyampaikan beberapa tema pemikiran tasawufnya. Berikut beberapa tema tasawuf perspektif Hasyim Asy’ari:

 

  1. Jalan Menuju Allah

Jalan menuju Allah sangat berkaitan dengan maqam-maqam di dalam hati kita seperti kauf atau perasaan takut, tobat, muraqabah, raja’ atau pengharapan. Dan juga berkaitan dengan sifat-sifat terpuji seperti Siddiq atau tulus, ikhlas serta sabra itu yang harus dimiliki oleh calon sufi untuk mencapai perjalanan makrifatullah.[1] Hasyim Asy’ari berpendapat bahwa cara manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah terlebih dahulu melakukan tingkatan-tingkatan dasar yang terdiri dari lima tigkatan, antara lain : bertaqwa kepada Allah secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan. Mengikuti sunnah dalam bentuk ucapan maupun perbuatan. Berpaling dari makhluk yang keadaan gampang dan susah. Rela terhadap Allah dalam keadaan sedikit dan banyak rezeki, Kembali kepada Allah dalam keadaan senang maupun susah[2].

Dari pendapat Hasyim Asy’ari tidak jauh berbeda dengan pendapat para sufi dimana perjalanan menuju Allah tersebut dikenal dengan maqamat/tingkatan-tingkatan. Dimana dasar tingkatan tersebut dibagi menjadi lima. Pertama, punya semangat yang tinggi. Kedua, menjaga kehormatan. Ketiga, rajin dalam menjalankan ibadah. Keempat, melaksanakan ketetapan hati. Kelima, mengagungkan nikmat Allah.[3] Hasyim Asy’ari memberikan penjelasan terkait tingkatan tersebut. siapa yang memiliki semangat tinggi Allah berjanji akan menaikkan derajatnya, dan siapa yang menjaga kemuliaan Allah, Allah berjanji akan menjaga kemuliaan orang itu. Siapa orang yang melayani dengan baik, maka mulia pula ia. Siapa yang melakukan ketepatan hatinya, akan diberikan petunjuk abadi oleh Allah. Siapa yang merasakan nikmat Allah, wajib baginya untuk selalu mensyukurinya, dan siapa yang mensyukuri nikmat Allah, maka Allah memberikan tambahan nikmat baginya, dan siapa yang tidak mensyukuri nikmat Allah maka adab yang diberikan baginya[4].

Setelah Hasyim Asy’ari menjelasan tingkatan dasar, selanjutnya beliau memberikan tanda khusus dasar tingkatan. Pertama, mencari ilmu karena Allah. Kedua, menjalin persahabatan dengan ulama dan saudara-saudaranya, karena hati-hati. Menjauhi yang ringan (al-rukhshah) dan takwilan-takwilan, karena hati-hati. Keempat, memanajemen waktu untuk wirid yang banyak karena hudlur. Kelima, memaksa diri dari sesuatu yang menimbulkan nafsu untuk menyelamatkan diri dari kerusakan[5]. Ada empat bahaya menuntut ilmu. Pertama, bersahabat dengan yang masih dini, baik secara akal, umur, kaidah, dan agama yang tidak bisa kembali pada asal. Kedua, bahaya berhubungan dengan masyayikh karena berlebih-lebihan dan terbujuk. Ketiga, kikir kepada dirinya sendiri. Keempat, mensia-siakan keadaan jiwa yang lurus dan baik.[6]

Puncak tahapan dari tingkatan ada sepuluh. Pertama, tobat. Kedua, menimba ilmu sesuai kebutuhan. Ketiga, keadaan diri selalu suci dan tidak lupa wudhlu. Keempat, melakukan ibadah wajib serta sunnah diwaktu awal dengan berjamaah. Kelima, menjaga sholat duha delapan rakaat, dan enam rakaat antara magrib dan isya’. Keenam, senantiasa sholat malam. Ketujuh, senantiasa sholat witir. Kedelapan, melaksanakan puasa senin dan kamis serta puasa tiga hari dihari pada Rajab dan Asyura’. Kesembilan, membaca al-Qur’an dan merenungkan maknanya. Kesepuluh, membaca istighfar, sholawat nabi, dan dzikir di pagi dan sore hari.[7]

Dapat disimpulkan bahwa agar kita sampai kepada Allah hendaknya melalui tahapan-tahapan yang ada diatas. Tahapan-tahapan atau dikenal maqomat (tingkatan-tingkatan) yang ditawarkan oleh Hasyim Asy’ari tidak jauh beda dengan pendapat para sufi. Tobat pada tingkatan pertama, diperinci lagi dan diberikan batasan khusus dalam tingkatannya. Mulai dari tahap dasar. Pokok tahapan dasar, tanda pokok tahapan dasar, sampai pada tahap puncak.[8]

  1. Amalan-amalan

Amalan praktis yang disampaikan Hasyim Asy’ari seperti tarekat. Dimana tarekat itu sendiri diartikan untuk pendidikan kerohanian yang biasa dilakukan oleh banyak orang untuk mencapai kehidupan tasawuf. Dengan penafsiran lain tarekat juga diartikan sebagai oranisasi. Amalan praktis ini bersumber dari Al-qur’an, peneladanan perilaku Nabi Muhammad, juga sahabat-sahabatnya[9]. Dikalangan sufi, amalan merupakan pokok keharusan karena mereka memiliki guru tersendiri dan itu merupakan metode untuk lebih dekat dengan tuhannya. Salah satu contoh sufi terdahulu yang menggunakan amalan khusus seperti dzikir, sholawat, membaca Al-Qur’an. Hasyim Asy’ari menekankan bahwa jika seseorang ingin lebih dekat dengan tuhannya, hendaknya memperbanyak membaca amalan. Membaca sholawat kepada Nabi Muhammad, istighfar, serta berdzikir diwaktu pagi dan sore hari.[10]

Amalan yang diajarkan oleh Hasyim Asy’ari tidak jauh berbeda dengan amalan tarekat Syadziliyah. Dalam hal ini kemungkinan Hasyim pernah belajar tarekat tersebut, diperkuat karena ada penemuan bahwa beliau pernah menerima ajaran tarekat ketika berada di Makkah dari gurunya bernama Syeikh Mahfud Tarmes. Kemungkinan terbesar beliau menerima ajaran tarekat Syadiliyah dari Syekh Mahfud, karena Hasyim orang yang dikader Syekh Mahfud. Syekh Mahfud merupakan murid dari al-Sayyid Abi Bakar Syatha al-Makki yang sanadnya bersambung langsung dengan Iman Abi al-Hasan al-Syadzili. Meskipun dasarnya Hasyim Asy’ari tidak memiliki ikatan tarekat manapun. Jika muridnya ingin belajar dan mengikuti tarekat manapun Hasyim Asy’ari tidak melarang dalam hal ini.[11]

Terlihat jelas gigihnya Kiai Hasyim Asy’ari dalam membentengi umat Islam dari pengaruh penyimpangan sumber Islam yang murni, Al-Qur’an dan Hadist. Beliau juga sangat kritis terhadap tarekat, konsep kewalian, dan haul. Karena Hasyim menginginkan posisi tasawuf berada di kedudukan yang semestinya yaitu dilihat dari aspek substansinya bukan aspek kulturalnya. Jika berjalan dari aspek kulturalnya, menimbulkan tasawuf menjadi liar, lepas kendali, dan lepas dari syariat. Ini juga jawaban kenapa aspek tersebut menjadi tradisi dikalangan NU.[12]

Bila kita lihat secara garis besar bahwa konsep ajaran tasawuf Hasyim Asy’ari adalah mengutamakan persyaratan tertentu bagi orang yang ingin mempraktekkan ajaran Tasawuf untuk mengurangi akibat yang buruk dari praktek sufi karena jika tidak dilakukan akan dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu seperti jabatan, kekuasaan, atau materi dengan cara ia mengaku ngaku dirinya seorang wali. Karena sehebat hebatnya wali, ia tetap saja seorang manusia. Dalam hal ini bisa jadi menimbulkan konflik bagi umat bawah dengan keessederhanaan pemahaman mereka. Dapat juga kita simpulkan bahwa tasawuf K.H. Hasyim Asy’ari merupakan faham ortodox, sesuai yang dirumuskan oleh Al-Junaid Al-Baghdadi dan Al-Ghozali. Sufisme ini sesuai dengan ajaran Islam Sunni.[13]

 

[1] Syaikh Abd al-Qadir Isa, Hakikat Tasawuf, terj. Khairul Amru Harahap, (Jakarta: Qisthi Press, 2014), 185.

[2] Bahriyadi, Skripsi, “Pandangan Tasawuf K.H. Hasyim Asy’ari Dalam Kitab Risalah Jami’ah Al-Maqashid”, (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2017), 55.

[3] Ibid., 56.

[4] Ibid., 57.

[5] Ibid., 57.

[6] Ibid., 58.

[7] Ibid., 59.

[8] Ibid., 60.

[9] Syaikh Abd al-Qadir Isa, Hakikat Tasawuf, terj. Khairul Amru Harahap, (Jakarta: Qisthi Press, 2014), 22.

[10] Bahriyadi, Skripsi, “Pandangan Tasawuf K.H. Hasyim Asy’ari Dalam Kitab Risalah Jami’ah Al-Maqashid”, 64.

[11] Ibid., 67.

[12] Muhammad Rifai, K.H Hasyim Asy’ari Bioografi Singkat 1871-1947, 86.

[13] Ibid., 87.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here