Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh rekan-rekanita.

 

Alhamdulillah hirabbil alamin amma ba’du.

Dalam rangka turut meramaikan bisnis nasihat yang kian marak, serta menyemarakkan gerakan tutur-tutur nasional. Mohon izin berbual. Berbual saya mulai.

Pada kesempatan kali ini saya merasa tertantang untuk turut serta menyampaikan kejanggalan tentang sesuatu hal yang sedang terjadi dan saya amati tentang PANCASILA.

Terlebih ketika setelah saya mendapati sebuah pertanyaan yang berbunyi “Pancasila itu ada atau enggak sih ?” Kemudian “mana Pancasila mu.?” Dari hal tersebut saya rasa, ini bukan pertanyaan sembarangan. Bukan pertanyaan yang cukup di Jawab dengan menyebutkan butir-butir Pancasila. Saya yakin tidak sesederhana itu jawabannya.

 

Kemudian setelah itu saya mendapati sebuah cuplikan tayangan ILC, seorang budayawan mbah Sujiwo Tejo mengatakan bahwa “Pancasila itu tidak ada, yang ada adalah teks Pancasila dan lambang Garuda”. Dari cuplikan tersebut coba saya fahami. Mungkin bisa jadi iya. Dan saya setuju begitu saja. Tapi ketika saya tangkap, Pancasila bukan tidak ada tapi belum ada.

 

Belum ada yang saya maksudkan adalah penghayatan dan pengamalan dari setiap teks dan setiap bagian-bagiannya. Karena sejak kecil hingga saat ini kita masih di tuntut untuk menghafalkan nya, bukan mengamalkannya.

 

Atau mungkin kita harus berhenti menghafalkan Pancasila, kalau pada bagian pertama di bab ketuhanan saja terkadang kita masih berebut Tuhan agama mana yang paling benar.? Yang lebih parah umat sesama agama ada yang masih berebut tentang ajaran siapa yang paling benar. Dan ternyata kita masih seperti itu, semakin hari semakin seperti itu. Untuk menghormati keyakinan orang lain ternyata kita masih harus membandingkannya dengan apa yang kita yakini.

 

Status Pancasila hingga saat ini hanya akan menjadi sebatas teks, karena belum benar-benar mampu untuk kita amalkan secara maksimal. Seperti halnya adanya tulisan jagalah kebersihan. Tapi terkadang kita masih membuang sampah sembarangan. Kalau saya sendiri sebenarnya malu ada tulisan semacam itu, seolah kita ini manusia yang punya fikiran tapi tidak berfungsi. Harusnya teks jagalah kebersihan itu gak perlu ada. Tapi setiap saat kita secara otomatis sudah menjaga kebersihan dengan sebagai mana mestinya. Kalaupun kita masih harus di dikte dengan teks-teks peringatan sederhana semacam itu. Jangankan ngomong Pancasila, mengaku sebagai manusia bersih saja kita sudah gagal.

 

Apakah kita masih senantiasa harus di dikte dengan teks-teks semacam itu ?, Atau mari kita belajar untuk merenung sejenak. Dalam rangka mengecek apakah nurani kita masih berfungsi.

Masa iya.? Tanpa teks Ketuhanan Yang Maha Esa kita tidak mengenal Tuhan dan ajaran agama yang di bawanya.?

Masa iya.? Tanpa teks Kemanusiaan yang adil dan beradab, kita tidak memiliki rasa kemanusiaan dan kehilangan adab terhadap sesama manusia.?

Masa iya.?

Tanpa teks Persatuan Indonesia kita tidak memiliki rasa persatuan terhadap saudara sebangsa kita ?

Masa iya.?

Tanpa teks Kerakyatan yang dipimpin oleh khidmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Kita tidak bisa menerima keputusan musyawarah dengan bijaksana.?

Masa iya.?

Tanpa teks keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia kita tidak memiliki rasa empati untuk berbuat adil terhadap sesama manusia.?

Saya rasa itu adalah suatu hal yang otomatis harus kita kerjakan sebagai manusia normal pada umumnya. Dan entah kita masih normal atau sudah upnormal.

 

Atau jangan terlalu jauh dulu ngomong soal Pancasila dan kemanusiaan kalau dalam organisasi terkadang saat ada orang sambutan, atau sedang berpidato di depan kita masih sibuk dengan handphone kita masing-masing dan terkadang malah ngobrol sendiri dengan orang di samping kanan kiri kita. Dalam hal yang sepele saja kita sudah gagal mengamalkan salah satu butir Pancasila.

 

Semoga dalam situasi pasca pandemi ini kita bisa menuju new normal sebagai manusia yang baru pulih dari ketidak normalan dalam berfikir yang telah kita alami sebelumnya.

Atau kalau ada memilih untuk sudah merasa normal sejak lahir ya silahkan.

 

Dan ternyata kita masih benar-benar harus senantiasa di dikte oleh teks Pancasila sebagai bentuk introspeksi diri, untuk kemudian menjawab pertanyaan. Masih layak kah saya mengaku sebagai manusia dan masih layak kah saya mengaku sebagai bagian dari bangsa Indonesia.?

 

Sekian yang bisa saya sampaikan jika mungkin tidak sesuai dengan apa yang rekan-rekanita asumsikan ya tidak apa-apa. Anggap saja saya sedang ngelindur. Setelah ini saya akan bangun dari tidur. Dengan harapan bangun sebagai manusia yang sudah normal, dan bisa membuktikan Pancasila bukan dongeng fiktif belaka. doakan semoga berhasil. Amin

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh

 

Penulis : Muhammad Avif Fawaid / bisa di temui di Wedi, Gedangan / berhobi Membuat gara-gara / cita-cita dalam proses yakni Berguna bagi siapa saja dan apa saja.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here